Kamis, 02 Februari 2017

Touring Motor Jakarta-Sawarna


Setelah siap2 selama seminggu ane mulai juga trip ane kali ini. Bangun jam 4:30, beres- beres, panasin Marbella (Motor Pulsar 220F) trus  ane langsung cusss jam 5:20. Sambil menyusuri jalan Raya Bogor ane merasa ada yg kurang. Asem, lupa pake sarung tangan dan masker buff. Lupa juga bawa kacamata riben dan obat2an. Mana abis ujan semalam, tangan ane dingin kena angin dari rumah sampai pelabuhan Ratu.
Abis Jalan Raya Bogor, sampe Ciawi belok kiri puter balik buat ke Sukabumi. Ga bisa langsung belok kanan masbro.

Rute Berangkat Jakarta-Sawarna, Agak Muter


Sampai di simpang Parung Kuda ada tanda belokan ke Pelabuhan Ratu. Sampai disini jalan mulus dan sepi, Hanya macet sebentar dibeberapa titik, terutama di Cicurug.

Ane tanya-tanya sama polisi gope katanya kalau lewat sini 40km dan jalannya mulus. Kalau lewat Cibadak maju lagi sedikit dan jaraknya 44km.
Ane cuma nanya jalannya mulus atau ga. Karena ternyata jalannya seperti roller coaster. Penuh tanjakan/turunan curam dan tikungan ciluk ba. Bertubi-tubi berganti-ganti tiada henti. Tercatat sekali hampir keluar jalan karena salah perhitungan. Jalan mulus, sedikit rusak, banyak yg ga rata, tambalan. Sepi dan Rawan longsor. Tapi pemandangannya emang ajib gan.

Sampe di Pelabuhan Ratu jam 08:22 ane mlipir ke pom bensin, pipis sama nyemil sekitar 15 menit.

Lanjut ke Sawarna jalan lebar, mulus dan bergaris tengah dan pinggir. Disinilah kesalahan ane. Ane ga.liat belokan ke kiri ke Sawarna, karena memang ga ada plang jalan yg warna ijo. Google juga salah kasih info. Jadilah ane bablas muter lewat pabrik semen yang jalanannya rusak sejauh 5 km.

Jalan Masun Ke Sawarna dari pelabuhan Ratu, Kelewat Karena ga ada Plang
Jam 11 kurang dikit akhirnya sampailah ane di Sawarna. Nanya2 penginapan sama ibu penjaga pertamini, malah ditawarin rumahnya. Namanya Penginapan Dwi harga 200 kamar mandi luar dan tanpa makan. Lokasinya lewat gerbang utama Pantai Ciantir sebelah kanan kalau dari arah Pelabuhan Ratu.

Masuk kamar golak,-golek bentar, mau pakek WA ternyata Tri ga ada sinyal. Mampus.

Marbella di depan Penginapan Dwi


Berhubung ane dah laper, acara pertama adalah maem. Untuk yg mau ke sini, harap siap2 nyari warung susah. Akhirnya makan di warteg depan pintu masuk pantai Tanjung layar , Rp 17 ribu nasi ayam tempe orek, mayan lah.

Ke Goa Lalay

Jalan Masuk Goa Lalay, ga ada Petunjuk

Siang-siang kalo ke pantai masih panas, jadi ane ke goa Lalay. Gang masuk ke goa ini, lagi2, ga ada plangnya, cuma disamping penggergajian kayu. Ane bolak balik nanya baru ketemu.
Di pintu masuk ga ada orang kecuali penjaganya. HTM 5000.  Penjaganya nawarinn jadi guide. Oke lah ane ganti kostum celana pendek dan mulai caving. Lumayan juga, seumur2 ini pertama kali masuk goa.

Langit-langit Goa Lalay
Pintu Keluar Goga Lalay


Ke Pantai Ciantir/Pasir Putih

Jam 2 an, keluar goa Lalay, baru Jam dua, ane main ke Pantai Ciantir/Pasir Putih. Pintu masuknya ada dua, lewat depan penginapan ane dan lewat Indomaret (kalo ga salah) pantai Ciantir ini berdekatan dengan Pantai Tanjung Layar. Pantainya luas, bersih dan pasirnya putih, sayang ombaknya besar, dan arus bawahnya kuat. Sangat berbahaya berenang sampai ke tengah. Menurut penuturna penjaga goa Lalay sudah ada puluhan korban meninggal tenggelam di pantai ini. Ada baiknya agan memperhatikan hal ini kalau berkunjung kesini.

Marbella Main Pasir Di pantai Ciantir/Pasir Putih
Pantai Ciantir memang wow
Pantai Ciantir


Ke Pantai Tanjung Layar

Monumen Pantai Tanjung Layar
Hanya sebentar ane disini, jam 3 sore ane bergerak ke pantai Tanjung Layar. Pantai Tanjung layar dapat di dicapai  dari pantai Ciantir, lewat jalan kecil yang hanya bisa dilewati motor/orang. Untuk pengunjung dengan mobil harus jalan kaki atau keluar gerbang, lalu masuk melalui pintu Indomaret. Pantainya bagus dengan pulau yang berbentuk seperti layar. Kalau pasang surut pengunjung bisa berjalan ke pulau tersebut.

Ane duduk-duduk disini selama sejam.  Jam 4 sore  pulang mandi istirahat dan charge hp. Jam 5 ane balik lagi ke Tanjung Layar buat nyari Sunset. Sayang sungguh sayang ane ga dapet sunset karena ketutup awan tebal.

Pulang makan mie ayam bakso harga 17 ribu, baksonya segede bola pingpong.

Pulau Yang Mirip Layar, Ramai
Sunset Tertutup Awan di Pantai Tanjung Layar

Mengejar Sunrise di Karang Taraje

Bangun pagi-pagi jam 5 pagi buat liat sunrise. Rencanya mau liat sunset dari Karang Taraje. Ane cuma cuci.muka. Jalanan basah karena subuh tadi hujan deras. Gang masuk ke Karang Taraje/Lagon Pari kagak ada plang tanda masuk. Tapi dari hasil tanya2 belokannya dekat balai desa/SD.  Jalannya cuma muat motor saja jadi yang naik mobil harus jalan kaki atau naik ojek.
Ikutin jalan sampe ke pos penjagaan bayar 5000 sambil tanya2. Mulailah adventure lewat jalan naik turun curam, sempit, licin/basah dan gelap. Tiada seorang pun ane jumpai selama 5 menit perjalanan. Pas hampir sampai harus lewat jembatan gantung kecil muat satu motor. Bayangkan gelap licin dan jembatan goyang2 ketika dilewati. Ane perlu memompa adrenalin. Di jembatan ini ane sempat bengong semenitan ga nyangka harus lewat jembayan kayak gini. Sempet mikir nitip motor, tapi muter motor juga susah karena jembatannya pas tanjakan curam. Terlihat dari seberang  jembatan ada lampu motor.  Yo wisss ane gas si Marbella, jalan pelan sambil antisipasi goyangan jembatan, fiuhhh. Lewat jembatan ketemu lagi jalan naik turun lebih extrim karena rusak dan berbatu-batu. Baru ketemu Lagoon Pari. Dari sini ke kiri ke Pantai Karang Taraje ke kanan Pantai Karang Bireun.
Secara umum jalan ke tiga pantai ini  not recommended buat yg nyalinya kecil seperti ane. Mendingan jalan kaki atau naik ojeg dah. Tapi kalau jalan kaki sampai karang bireun yg terjauh lumayan kurang- lebih 2 km atau 20 menit jalan kaki.

Ente Liat Jembatan Gan? Ini Jembatan Gantung Kecil Menuju Pantai Karang Taraje, Lagon Pari dan Karang Bireun.
Ane putuskan untuk ke Kanan ke Pantai Karang Bireun, lewat jalan offroad sampai di warung ane istirahat sebentar nunggu Sunset, Suasana remang2, hujan ringan dan gerimis bergantian. Awan terlihat menggantung di langit. Yaaah ga dapet Sunrise deh. Matahari hilang sampai jam 9 pagi. Sambil nunggu ujan, makan pagi nasi kuning telor setengah sama teh manis dan beli hansaplast 2 lembar harga 15 ribu.

Abis ujan ane mulai explore Pantai Karang Bireun. Pantai karang Bireung adalah barisan karang yang setinggi air laut, sehingga bisa dilewati oleh wisatawan. Kita seperti berjalan di atas air sampai ke tepi karang berbatasan dengan laut dalam. Barisan karang ini menjorok kurang lebih 100 meter ke tengah laut. Unik ya. Karang yang tidak terendam air umumnya tajam, tapi yang kena air berlumut dan licin. Disinilah bahanyanya. Ane Lagi asik bikin video, tiba2 ane terpeleset dan tangan kiri ane luka dam berdarah. Ane minta tolong yg punya warung untung nyuci luka ane dan nempel tensoplast. Lumayan robeknya 2cm.

Pantai Karang Bireun, Pantai Karang Menjorok ke Laut
Pantai Karang Bireun

Ke Pantai Lagon Pari

Setelah pendarahannya berhenti dan nyerinya berkurang ane lanjutkan explorasi ane ke pantai Lagon Pari. Sayang dong udah jauh-jauh kesini ga ke Lagon Pari. Lagon Pari adalah pantai teluk kecil, ada banyak perahu nelayan disini. Pantainya berpasir putih, gelombangnya cukup besar tapi arus bawahnya tidak terlalu kuat. Pantai ini sangat aman untuk berenang karena tidak pernah ada korban tenggelam disini, tidak seperti pantai Ciantir.

Pantai Lagon Pari
Pantai Lagon Pari

Menuju Karang Taraje

Ini adalah ultimate goal kalau ke Sawarna, karena air terjun di Pantai Karang Taraje fenomenal dan sudah terkenal. Untuk menuju pantai ini harus melalui pantai Lagon Pari, karena tidak ada jalan lain. Bisa berjalan kaki atau naik motor. Untuk yang mau naik motor, cukup sulit, karen anda harus membawa motor anda melalui pasir kering ke arah pinggir pantai dimana pasir basah. Kalau anda berhenti di pasir kering maka motor akan selip. Di pasir basah motor bisa berjalan geal-geol terasa seperti mau jatuh. Setelah lewat sungai kecil ane parkir dekat warung dan jalan kaki ke Pantai. Lagi-lagi ane kurang beruntung karena tidak dapat melihat air terjun yang indah. Menurut penjaga pantai air terjun bisa terjadi jika pasang tinggi sekitar tanggal 24/25 setiap bulannya, itupun belum pasti. Ah sudahlah.

Pantai Karang Taraje
Pantai Karang Taraje
Tangga Naik Ke Dinding Karang
Deburan Ombak di Karang Taraje


Pulang ke Jakarta

Jam 11:50 ane pulang lewat jalur umum dan sampat moto pertigaan masuk Sawarna yang terlewat waktu datang. Perjalanan pulang penuh degan kemacetan karena sore hari. Jam 2 ane makan soto ayam santan plus jajan seharga 23 ribu di depan Polsek Cikidang, sebelum pertigaan Parung Kuda. Ga nyangka di tengah hutan bisa ketemu soto enak. Jam 7 malam ane sampai di rumah.


Jalur Yang Benar Ke dan dari Sawarna

Tipikal Jembatan Gantung Permanen di Sawarna

Kesimpulan 

Kesimpulan Sawarna lebih cocok dikunjungi dengan motor karena lokasi pantainya yang berjauhan dan aksesnya jelek. Dan motor yg paling cocok adalah motor bebek. Ane salah bawa si Marbella kesini harusnya naik si Browny (Supra X ane). Naik matic juga kurang enak karena banyak turunan curam yang perlu engine break.

Sekedar info sewa ojek borongan Rp 150 untuk 2 hari.

Total waktu tempuh pergi 6 Jam (Nyasar)
Total waktu tempuh pulang 7 Jam (Macet)
Total Kilometer = 409km
Isi bensin 60 ribu  8.15 liter Pertalite
Komsumsi BBM 405/8.15 Liter = 49.7 km/liter
Oli berkurang 200cc
Total Biaya 200 + 60 + 17 + 15 + 15 + 25 + 5 + 5 = 342 ribu

Begitulah sekelumit pengalaman ane. Silahkan di komen gan.



5 komentar:

  1. Enak pake supra x, pasti lebih iris. Over all lokasinya bagus banget, kalau weekend macet gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan masalah irit gan, tempatnya perlu motor lincah buat manuver, Pulsar 220 kegedean banget.

      Hapus
  2. yang penting motor kecil lae, jangan pake CBR

    BalasHapus
  3. Gan gimana akses jalannya sepi atau rame? Recomend nggak kalo buat jalan malem?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagain besar ramai gan. Pkoknya kalau masih di pulau Jawa, jarang tempat sepi

      Hapus